Sabtu, 30 Maret 2013

Bahaya Tamak/Rakus terhadap Harta & Kedudukan


Harian SOLOPOS (Jumat, 22 Maret 2013). Tidak salah manusia mencintai harta kekayaan yang banyak berlimpah ruah, tetapi hendaklah sadar bahwa itu hanya sekedar bisa dini’mati ketika hidup di dunia yang sifatnya sementara, sedangkan kesenangan yang sesungguhnya adalah di sisi Allah SWT (surga). (QS. Ali ‘Imraan : 14)


زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya mengarahkan dengan jelas dan tegas dalam hidup ini agar mencari kebahagiaan hidup di akhirat kelak, adapun tentang keduniaan, sekedar jangan dilupakan, (QS. Al-Qashash : 77)
 وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Dunia bukan tempat kebahagiaan, tetapi tempat bekerja keras untuk mempersiapkan bekal mencapai kebahagiaan hidup di akhirat. Allah SWT sudah mengingatkan bahwa kesenangan, kebahagiaan, apapun yang dirasakan oleh manusia di dunia, tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Ali ‘Imraan : 185 dan QS. Al-Hadiid : 20).
 كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ
 Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
 اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Manusia sekarang ini pada umumnya sudah tidak memperhatikan peringatan Allah SWT tersebut, manusia memandang orang yang bahagia adalah orang yang mempunyai harta yang banyak dan mempunyai jabatan/kedudukan yang tinggi.

Oleh karena itu mereka beramai-ramai berebut kekayaan dan kedudukan dengan jalan apapun, kalau perlu dengan membeli/suap untuk memperoleh suatu jabatan/kedudukan. Rasulullah SAW pernah menasehati Abu Dzarr, bahwa jabatan itu adalah suatu amanat yang akan dipertanggungjawabkan dan menjadi penyesalan nanti pada hari qiyamat, maka jangan minta suatu jabatan atau kedudukan apapun (HR. Muslim). Rasulullah SAW juga bersabda :
اِنَّا وَ اللهِ لاَ نُوَلّى عَلَى هذَا اْلعَمَلِ اَحَدًا سَاَلَهُ وَ لاَ اَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ. البخارى و مسلم
Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seseorang dalam jabatan ini pada orang yang menginginkan, dan tidak (pula) pada orang yang berambisi pada jabatan itu. [HR. Bukhari dan Muslim]
Orang yang sudah sangat berambisi untuk menempati suatu jabatan dan ingin memiliki harta yang banyak, merasa menjadi orang yang mulia dan terhormat dengan itu semua, mata menjadi gelap, hati menjadi rakus, berusaha dengan jalan apapun akan ditempuh tanpa peduli ini halal atau haram, dan tanpa berpikir akibat dari perbuatan itu semua.
Tidak sedikit di negeri ini manusia-manusia semacam itu, kalau kita lihat dan kita baca, baik di layar TV maupun di media cetak, dari kalangan legislatif, eksekutif, yudikatif maupun pimpinan organisasi. Berapa banyak dari mereka yang melakukan suap-menyuap, korupsi, manipulasi dengan segala jenisnya. Sikap semacam  itu hampir merata terjadi dari kalangan atas sampai pejabat kalangan bawah di negeri ini, dengan tujuan untuk menjadi orang terhormat dan bahagia karena memiliki banyak harta, dan punya jabatan di masyarakat.
Tetapi apa yang terjadi ? Setelah tertangkap KPK kekayaan hasil korupsi dan jabatannya ternyata tidak menjadikan dirinya mulia dan bahagia. Rumah mewah yang dimiliki tidak bisa dini’mati, terpaksa harus tidur di hotel prodeo, di balik jeruji besi, namanya jatuh akibat dari gelap mata dan didorong oleh kerakusan hati. Itu baru hukuman di dunia, besok di akhirat akan merasakan penderitaan yang lebih dahsyat lagi.
Oleh karena itu rakus terhadap harta dan kedudukan sangat berbahaya, akan membawa kesengsaraan pada diri sendiri dan keluarganya, bahkan orang lain juga kena dampaknya dari itu semua. Rasulullah SAW bersabda, “Sifat thama’ dan rakus terhadap harta dan kedudukan lebih merusak agama seseorang daripada dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah-tengah kawanan kambing”.
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ اُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِاَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ اْلمَرْءِ عَلَى اْلمَالِ وَ الشَّرَفِ لِدِيْنِهِ. الترمذى
Kerusakan agama seseorang yang disebabkan oleh sifat thamak dan rakus terhadap harta dan kedudukan lebih parah daripada kerusakan yang timbul dari dua serigala yang lapar yang dilepaskan dalam rombongan kambing. [HR. Tirmidzi]
Maka marilah kita jaga diri kita, keluarga kita, jangan sampai mempunyai sifat yang merusak keyaqinan terhadap agama kita, yaitu sifat rakus terhadap harta dan jabatan, yang akan memembawa akibat kesengsaraan, penderitaan hidup di dunia ini dan di akhirat kelak.
Oleh : Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Ketua Umum Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar